Jumat, 31 Agustus 2012

HNSI Tabanan Gandeng Miss Indonesia Earth Lepas Tukik



 Miss Indonesia Earth (MIE) 2012, Chelsy didampingi teman lannya, MIE Air Ksatria Soldiana Hutagaol, MIE Water Nadia Amanto, MIE Fire Sonya Puspita Putri dan MIE Ecotourism Chintya Ratu Wikanti melepas puluhan tukik di pantai Pasut

Guna mensosialisasikan penyelamatan penyu, DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tabanan, sengaja menggenadeng lima pemenang Miss Indonesia Earth (MIE) tahun 2012 melepas puluhan tukik (anak penyu) di pantai Pasut, Desa Tibubiu, Kecamatan Kerambitan, Jumat (3/8).

Ketua DPC HNSI Kabupaten Tabanan Ir. I Ketut Arsana Yasa menegaskan, pelepasan tukik tersebut juga sebagai upaya penyadaran terhadap masyarakat untuk melindungi Penyu Hijau yang populasinya di ambang kepunahan. Arsana Yasa mengatakan, nelayan di Tabanan sejak tahun 2005 atas dorongan Bupati Tabanan kala itu N Adi Wiryatama berkomitmen melestarikan penyu hijau. Ia menambahkan, di tahun 2005 semasa Bupati Adi Wiryatama juga membuat kebijakan tidak menggunakan penyu sebagai bahan yadnya (upakara). Di samping itu nelayan Tabanan juga berkomitmen menangkap ikan dengan alat-alat tradisional untuk melindungi terumbu karang. “Kami berterima kasih kepada Miss Indonesia Earth yang sudi mampir ke pantai Pasut, sekaligus melepas puluhan tukik penyu hijau yang langka,” ungkap Sadam, sapaan akrab Arsana Yasa.

DKP Bali Gelar Bintek Manajemen Usaha di Tabanan




Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti memberikan apresiasi dan atensi yang besar terhadap bidang perikanan dan kelautan di Tabanan karena memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Hal itu terungkap dalam sambutan tertulis Bupati Wiryastuti yang dibacakan oleh Plt. Sekda Tabanan Ir. I Nyoman Wirna Ariwangsa, MM saat membuka Bimbingan Teknik (Bintek) Manajemen Usaha Perikanan dan Kelautan yang dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bali di Aula Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlaut) Kabupaten Tabanan, Rabu (25/7).

Menurut Bupati Wiryastuti, belum optimalnya pemanfaatan potensi perikanan dan kelauatan tersebut di antaranya karena masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan para pelaku utama perikanan dan kelautan. Terkait hal itu, Pemkab Tabanan sangat mendukung program DKP Bali dalam percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui bintek ini. “Ke depan saya berharap bintek ini bisa dilaksanakan berkelanjutan,” harapnya.

Lomba UKM Pengolahan Hasil Perikanan Poklahsar Cipta Lestari Dinilai Tim Provinsi




Kelompok pengolah dan pemasar (Poklahsar) Cipta Lestari Desa Bajera, Selemadeg yang menjadi duta Kabupaten Tabanan dalam lomba UKM Pengolahan Hasil Perikanan, Kamis (7/6) dinilai oleh Tim Provinsi Bali

Ketua Poklahsar Cipta Lestari M. Choiron Sudiarta dalam laporannya mengungkapkan, kelompoknya yang beranggotakan 11 orang ini baru terbentuk secara resmi pada tahun 2010 lalu. Sebelumnya, anggota kelompok secara perorangan menekuni pembuatan kue yang dirintis sejak tahun 1988. Dari pembuatan kue ini, akhirnya pada tahun 2009 mulai merintis membuat kue yang bahan dasarnya dari ikan teri. “Sejak membuat ikan teri berselimut wijen inilah, kami mulai dapat pembinaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tabanan sehingga pada tahun 2010 kami memutuskan untuk membentuk kelompok,” katanya berterus-terang.

Menurut Choiron, berkat pembinaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlaut) Tabanan, kelompoknya pada tahun 2010 mewakili Kecamatan Selemadeg mengikuti lomba pengolahan ikan di tingkat kabupaten dan berhasil meraih juara II. Setahun berikutnya, dalam lomba yang sama kelompoknya akhirnya berhasil meraih juara I dan dipercaya mewakili kabupaten untuk berlomba di tingkat provinsi.  “Meski kelompok kami baru berdiri, kami telah beberapa kali mengikuti pameran dalam berbagai even di Kabupaten Tabanan sehingga produk kami semakin dikenal masyarakat,” paparnya.

Choiron menjelaskan, dari usaha ikan teri berselimut wijen yang ditekuni kelompoknya, setiap tahun memiliki omzet sekitar Rp 46 juta. Sementara dari produk perikanan lainnya seperti olahan betutu gurami, bakso ikan, nugget ikan dan abon ikan memiliki omzet bervariasi berkisar Rp 45 – 68 juta per tahun. “Usaha utama kami memang berupa keripik ikan teri berselimut wijen. Selain itu kami juga memproduksi aneka olahan ikan lainnya seperti bakso, nugget dan abon ikan,” paparnya.

Loka Karya Perikanan Berkelanjutan di Diskanlaut Tabanan


Guna menjaga kelestarian lingkungan , budidaya ikan ke depan hendaknya menggunakan sistem tertutup dengan memanfaatkan jenis bakteri heterotrofik yang bisa mengubah imbah dari hasil budidaya ikan menjadi sumber protein yang bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan ikan.

Dr. Ir. Bambang Gunadi, M.Sc, peneliti perikanan budidaya di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, Subang,  Jawa Barat mengungkapkan hal itu dalam Loka Karya Pengembangan Perikanan Budidaya yang Produktif dan Berkelanjutan di aula Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlaut) Tabanan, Jum’at (6/7). Menurut Bambang, meski teknologi budidaya perikanan sistem tertutup dengan memanfaatkan bakteri sebenarnya sudah lama ditemukan, namun belum banyak yang menerapkannya di lapangan.”Melalui loka karya ini, mudah-mudahan teknologi budidaya ikan ramah lingkungan ini bisa lebih disosialisasikan dan diterapkan oleh para pembudiaya ikan yang hadir,” katanya berharap.

Pada loka karya yang digelar atas kerjasama Diskanlaut Tabanan dan Ikatan Alumni Sekolah Usaha Perikanan (SUPM) Bogor Tahun 1983 ini, Bambang juga menuturkan  bila pakan berupa pelet yang diberikan untuk ikan  banyak yang terbuang sia-sia. Semakin intensif budidaya ikan yang diterapkan, maka semakin banyak pula pakan ikan yang terbuang. “Berdasarkan hasil penelitian, nitrogen pakan yang bisa diubah menjadi daging hanya sekitar 25 persen saja. Sedangkan yang 75 persen terbuang,” paparnya.

Terkait hal itu, Bambang yang membawakan makalah Inovasi Teknologi Baru Perikanan Budidaya ini menuturkan, dengan menerapkan budidaya ikan sistem tertutup melalui pemanfaatan bakteri heterotrofik maka, biaya pembelian pakan bisa lebih ditekan. “Selain ramah lingkungan, budidaya ikan sistem tertutup juga lebih murah,” jelasnya.