Senin, 31 Maret 2014

Kajian Sistem Produksi Budidaya Red-claw (Cherax sp.) dalam Mendukung Program Revitalisasi Perikanan.

Oleh : Lies Emmawati Hadie*, Wartono Hadie*, Ketut Sugama*, Nurbakti Listyanto*, dan Yayan Hikmayani**



ABSTRAK                

Kajian dilakukan  terhadap  sistem produksi budidaya red-claw yang mencakup  variabel teknis dan sosial ekonomi. Dalam kegiatan ini diuji sistem produksi benih secara out-door dan in-door. Sarana  yang digunakan dalam perbenihan secara indoor adalah akuarium yang berjumlah 24 buah dengan ukuran 40x30x80 cm. Sistem perbenihan secara out-door dilakukan di kolam tanah berdinding beton dengan luas kolam 300 m2. Kajian sosial-ekonomi dilakukan dengan metode PRA, pengumpulan data dan informasi dari hasil penelitian serta melalui survey. Analisis data meliputi analisis deskriptif terhadap status pasar dan kendala dalam  pemasaran. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa sistem perbenihan red-claw dapat dilakukan secara in-door dan out-door. Sistem in-door  hanya memerlukan investasi  yang relatif kecil, dan sistem out-door dapat diaplikasikan untuk wilayah yang memiliki kualitas air yang memadai.

Key words : production system, red-claw, socio-economic

Abstract : Assessment of Production System for  Red-claw Culture to Support the Fisheries Revitalization Programme. By:Lies Emmawati Hadie*, Wartono Hadie*,Ketut Sugama*, Nurbakti Listyanto*, and Yayan Hikmayani**

Assessment was conducted production system of red-claw that to cover  the variable of technical and  socio-economic. The activities were examined the production system by in-door and out-door. The facilities were used some aquaria in size 40x30x80 cm to the amount of 24 for in-door system. Out-door system were conducted in earthen ponds with concrete wall in size 300 m2. Assessment of socio-economic was condected to PRA methode, data collection and information from research and survey. Data  analysis to enclose descriptive analysis to market status and problems in marketing. Result of the assessment indicated that low investmen to in-door system, and out-door system could be applicated for area that they have a good quality.      
  
*Peneliti pada Pusat Riset Perikanan Budidaya
** Peneliti pada Balai Besar Sosial Ekonomi

Kamis, 27 Maret 2014

Ikan Nila dari Masa ke Masa





Ikan Nila
 Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang sangat populer dibudidayakan di Indonesia. Ikan nila ini juga merupakan salah satu jenis yang paling sering diteliti dan direkayasa genetiknya. Oleh karena itu, wajar saja bila saat ini masyarakat (pembenih dan pembudidaya ikan) mengenal banyak "jenis" ikan nila dengan beragam keunggulan yang ditawarkan.

Bila ditelusuri asal-usulnya, ikan nila merupakan ikan asli dari perairan sungai Nil di Mesir. Dari Mesir ikan yang mudah berkembang biak dan memiliki sifat yang toleran terhadap perubahan lingkungan ini berkembang ke negara lain di benua Afrika. Dari benua Afrika, lantas menyebar ke berbagai negara di belahan benua lainnya. Ikan nila pertama kali dimasukkan ke Indonesia dari Lukang Research Station Taiwan, oleh Lembaga Penelitian Perikanan Darat (LPPD) Bogor pada tahun 1969 untuk diteliti.

Rabu, 26 Maret 2014

Diskanlaut Tabanan Gelar Diklat Kompetensi Tenaga Kerja Bidang P2HP

Kepala Diskanlaut Tabanan Made Subagia dan Direktur Usaha dan Investasi Made Arta Jaya berfoto bersama dengan narasumber dan peserta Diklat


Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlaut) Kabupaten Tabanan menggelar Pendidikan dan Latihan (Diklat) Kompetensi Tenaga Kerja Bidang P2HP di Tabanan, Rabu - Kamis (19-20/3).

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlaut) Kabupaten Tabanan Made Subagia dalam sambutannya mengemukakan, Diklat ini merpakan langkah yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan pendapatan para pengolah dan pemasar di bidang P2HP.

Selasa, 18 Maret 2014

Bupati Tabanan Serahkan Bantuan Beras untuk Nelayan



Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti serahkan bantuan CBP kepada perwakilan kelompok nelayan

Nelayan Kabupaten Tabanan yang mengalami paceklik akibat cuaca buruk dan gelombang besar Januari - Februari lalu, menerima bantuan  Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sejumlah 16 ton.

Penyerahan CBP dilakukan Bupati Tabanan secara simbolis di Pantai Yeh Gangga, desa Sudimara, Tabanan, Sabtu (15/3). Beras sejumlah 16 ton tersebut diperuntukkan bagi 691 orang nelayan yang tergabung dalam 43 kelompok nelayan di 11 desa pesisir.

Bupati Wiryastuti dalam sambutannya mengungkapkan, pemberian CBP ini merupakan salah satu bukti dari perhatian dan kepedulian Pemkab Tabanan terhadap para nelayan. "Dari tahun ke tahun Pemkab Tabanan selalu berjuang mendapatkan CBP karena setiap awal tahun nelayan Tabanan selalu mengalami masa paceklik tidak bisa melaut akibat cuaca buruk, angin kencang dan ombak besar," paparnya.

Bupati juga mengungkapkan, dari tahun ke tahun CBP yang diserahkan untuk nelayan di Tabanan selalu meningkat. Bila pada kali pertama di tahun 2011 lalu CBP yang diserahkan hanya 7,7 ton sekarang meningkat menjadi 16 ton. "Selama empat tahun terakhir, Pemkab Tabanan telah mencairkan CBP sejumlah 49,4 ton," jelasnya.

Selain CBP, nelayan Tabanan pada kesempatan tersebut juga menerima bantuan berupa 320 bubu udang barong dari mantan Bupati Tabanan N. Adi Wiryatama selaku Penasihat DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tabanan.

Bantuan bubu tersebut diberikan karena pada saat cuaca buruk awal tahun lalu banyak bubu nelayan yang hilang dan hanyut. "Dengan adanya bantuan bubu ini, saya berharap nelayan bisa kembali melaut menangkap lobster dengan bubu," kata Wiryatama berharap. (gus)