Selasa, 31 Mei 2011

Dongkrak Harga Jual Lele Konsumsi, Pembudiaya Harus Melakukan “Grading”

Seiring maraknya budiaya ikan lele di kolam terpal, produksi lele konsumsi di Kabupaten Tabanan belakangan makin melimpah. Namun melimpahnya produksi lele ini ternyata tidak diimbangi dengan manajemen pemasaran yang baik. Akibatnya, harga lele di pasaran sempat anjlok sehingga membuat pembudidaya lele kelimpungan.
Kepala Dinas Perikanan dn Kelautan (Diskanlaut) Kbupaten Tabanan Ir. I Nyoman Wirna Ariwangsa, MM saat ditemui Manggala di ruang kerjanya, Selasa (10/5) mengakui pembudiaya ikan di Kabupaten Tabanan sebelumnya banyak yang mengeluh karena harga lele sempat turun. Terkait keluhan ini, pihaknya lantas melakukan pengamatan pasar serta melakukan iventarisasi permasalahan di tingkat pembudiaya dan pengepul. “Antara pembudiaya ikan selaku produsen dan pengepul selaku konsumen terjadi mis komunikasi. Harga lele sebenarnya stabil. Bahkan cenderung meningkat,” jelasnya.


Menurut Ariwangsa, turunnya harga lele di tingkat pengepul seperti yang dikeluhkan para pembudiaya ikan sebelumnya, ternyata diakibatkan para pembudiaya ikan tidak melakukan “grading” atau pemilahan ikan yang dijual berdasarkan ukuran yang dikehendaki pengepul. “Pembudidaya menjual ikan dengan berbagai macam ukuran. Sementara pengepul menginginkan lele berukuran satu Kg terdiri 6-7 ekor,” katanya sambil menambahkan, akibat penjualan dengan sistem root (segala ukuran) tersebut, pengepul harus mengeluarkan biaya tambahan lagi untuk melakukan grading sebelum menjual ikannya ke konsumen. Terkait hal itu, Ariwangsa menghimbau agar pembudidaya ikan melakukan grading sebelum menjual ikannya ke pengepul atau konsumen. “Ikan yang dijual harus sesuai permintaan pasar. Kalau pasar menginginkan sekilo terdiri dari 6 – 7 ekor, ukuran itulah yang harus disediakan oleh pembudiaya. Bukan menyediakan ukuran 1-2 ekor/Kg atau 8 – 10 ekor/Kg,” sarannya.
Selain menghimbau pembudiaya ikan melakukan grading, dalam waktu dekat ini pihaknya juga akan melakukan temu usaha, mempertemukan antara pembudiaya ikan selaku produsen dengan pengepul lele selaku konsumen. Di samping itu, untuk menekan biaya pakan, Wirna minta kepada pembudiaya ikan untuk memberikan pakan alternatif seperti keong, bekicot, limbah ikan dan dedaunan. “Dengan beberapa tindakan tersebut, kita harapkan pembudidaya lele di Tabanan bisa bersaing dengan produsen lele dari daerah lain,” katanya sambil menambahkan pihaknya tidak bisa menyetop masuknya lele dari luar daerah ke Bali. “ Kami tidak punya wewenang untuk itu. Karena kegiatan itu sudah merupakan mekanisme pasar,” papar Wirna.
Sementara itu, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) “Srikandi”, Banjar Soka Kaja, Desa Antap, Selemadeg, I Made Suardika mengakui, harga lele di tingkat pengepul memang sempat anjlok dari semula Rp 11 ribu menjadi Rp 10 ribu/Kg. “Kami menduga anjloknya harga lele karena banyaknya lele dari Jawa yang masuk ke Bali. Dugaan kami ternyata tidak sepenuhnya benar. Turunnya harga karena kami tidak melakukan grading,” katany berterus terang.
Menurut Suardika, setelah pihaknya melakukan grading sesuai permintaan pasar, harga lele kembali normal seperti semula. Hal senada diungkapkan Komang Dharma Susila, Ketua Pokdakan “Dharma Nadi” di Desa Buruan, Penebel. Komang yang berprofesi juga sebagai pengepul ikan lele ini menuturkan bila harga lele selama ini tetap stabil. Pihaknya membeli lele dari para pembudiaya ikan dengan harga Rp 11 ribu/kg untuk size 6 – 8 ekor sekilo . Sedangkan size 3 – 5 ekor sekilo dibeli dengan harga Rp 12.000/Kg . “Saya menjual ke konsumen berkisar Rp 12 ribu – 15 ribu per Kg sesuai ukuran yang diminta konsumen,” katanya berterus-terang.

Tidak ada komentar: